Yesus adalah seorang fenomena. Ia orang paling berpengaruh di dunia. Sulit rasanya untuk membandingkan dirinya dengan tokoh hebat lain yang pernah dicetak sejarah. Kita sebagai umat kristiani percaya bahwa ialah Allah. Tapi, apa yang membuat kita percaya? Ia datang sebagai manusia yang lemah, miskin dan tidak berdaya. Tapi mindset yang ia punya nomor satu di dunia. Kita harus menelaahnya secara baik, agar kita dapat membuktikannya sebagai Allah yang sejati.
Sebagai Allah, Yesus adalah satu2nya manusia yang bisa memilih tanggal dan tempat kelahirannya, atau cara ia datang ke dunia. Dan ini mungkin daftar pilihannya :
1. 1. Turun dari Langit dengan kemewahan surgawi
2. 2 . Lahir dari perut seorang Ratu.
3. 3.Lahir dari perut seorang remaja labil,dan di kandang domba dengan segala keterbatasan.
Jika kita lihat sekilas, mungkin pilihan ke-3 adalah sebuah “bad idea” atau pilihan buruk. Mungkin jika kita menjadi Yesus, kita pilih no 1 atau 2. Karena kita melihat dari value sekilasnya masing-masing. Tapi itulah Yesus, raja dari segala raja. Mari kita telaah satu persatu. Bayangkan jika Mesias turun dari langit dengan berpakaian putih bercahaya, muka bercahaya, rambut bercahaya, suara menggelegar seperti petir, dan lain-lain. Jika saya lahir di masa itu, jujur saya akan merasakan ketakutan yang luar biasa , dan alih-alih merasa bahagia, malah akan berpikir bahwa hari itu kiamat atau sebagainya, segala kekhawatiran luar biasa akan timbul. Dan saya mungkin akan menutup muka saya, gemetar, dan lain sebagainya. Yesus tidak ingin membuat manusia takut akan dia lalu percaya, tapi mengasihinya lalu percaya.
Yang kedua, bagaimana kalau ia lahir dari perut seorang ratu romawi, dengan wajah tampan rupawan, segala kemewahan seperti layaknya seorang pangeran. Mungkin saya akan minder bila berada di dekatnya, bahkan menghindar. Kemana-mana ia akan dikawal penjaga, sehingga orang tak akan berani menyentuhnya. Ia hidup di kalangan kerajaan, bukan rakyat jelata, sehingga hanya segelintir orang yang bisa mendengar suaranya. Ia tidak akan menyentuh orang buta, cacat.
Dan terbukti pilihan ke-3 menjadi yang paling tepat. Ya, Yesus lebih memilih berjalan-jalan di dunia dengan pakaian sederhana dan apa adanya, tanpa tujuan, tanpa arah. Ia lebih mengarahkan langkah kakinya menurut perkataan Roh Kudus. Itu yang membuat orang-orang di dekatnya nyaman, bahkan mau mencurahkan isi hati mereka, segala rahasia mereka, karena Ia sama dengan mereka, berjalan dengan cara yang sama, pakaian yang sama sederhana, dan yang terpenting Yesus itu “apa adanya” dan “ada apanya”. Itu juga yang membuat orang rela berdesakan untuk sekedar mendengar perkataannya. Inilah pilihan yang sangat tepat. Ia menempatkan posisinya di tempat paling menderita, miskin, tak berdaya, sehingga orang miskin dan menderita akan berkata ”penderitaanku tidak separah Yesus” sehingga para pengikutnya yang menderita akan merasa bahagia, bersyukur dan berjuang serta masih memiliki pengharapan akan Yesus. Karena ia menderita, ia bisa memberikan solusi pada orang yang menderita, dan karena itu mereka percaya.
Terbukti dengan senjatanya yaitu kerendahan hati, dan kesederhanaan Yesus bisa menarik setiap kalangan untuk mendengar perkataannya.
Pilihan yang hampir sama terlihat di tawaran iblis di padang gurun. Ini dia:
1. Mengubah batu menjadi Roti
2. Menawarkan segala kerajaan di Dunia
3. Mencobai Allah
Bagaimana bila Yesus memilih tiga pilihan ini. Bukankah ia bisa memenangkan orang banyak dengan membuat roti setiap diminta dan kemudian mengendalikan kerajaan dunia, sementara tetap melindungi dirinya dalam bahaya, tanpa mati di kayu salib. Dengan menguasai kebebasan manusia, Yesus membuat dirinya mudah ditolak. Yesus tidak memerintahkan manusia untuk mengikutinya, namun Yesus memberi pilihan. Sehingga pengikutnya tidak mengikut dia karena itu harus, namun karena kesediaan. Coba bayangkan jika ia melakukan hal itu pada masa hidupnya selama 33 tahun. Yesus mungkin tidak akan berbeda dari Julius Cesar, yang terkenal pada masanya, tapi sekarang tidak banyak yang mengetahuinya. Tapi Yesus, ia hanya punya 12 orang dan beberapa orang lain di masanya, tapi sekarang 2 miliar. Ya, Yesus tidak memilih cara instan namun dengan maksud rendah, tapi Yesus memilih cara yang berangsur-angsur dengan maksud melahirkan pengikutnya yang sejati. Kehendak tidak bisa diciptakan dari luar, namun harus bisa dari dalam. Manusia bisa mengendalikan manusia lain dengan cambuk, harta dan lain-lain, namun itu bukan panggilan diri, dan Tuhan mengerti itu. Ia membiarkan iman tumbuh bebas.
Sama seperti pertanyaan, kenapa Tuhan melahirkan Hitler, atau penjahat besar lainnya. Karena Tuhan tidak ingin langsung menghapuskan kejahatan, menghilangkannya dengan kebenaran. Tuhan lebih memilih melahirkan manusia baik , orang yang sungguh2 terpanggil untuk menyuarakan kebenaran. Tuhan lagi2 membiarkan iman tumbuh bebas, dan karena itu iman itu berkembang, sama seperti manusia yang berkembang.
Lalu, bagaimana ia memotivasi Petrus dan kawan2 untuk mengabarkan Injil mula2? Yesus adalah motivator terbaik di dunia. Ia menyembuhkan manusia hanya dengan motivasi. Jaman sekarang banyak orang berhasil menghipnotis alam bawah sadar, tapi Yesus berhasil menyentuh lebih dalam, bukan jampi2 atau hal mistis lain. Ia hanya berkata “bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah”, atau “Jadilah segala sesuatu menurut imanmu” dan orang itu sembuh. Dan ia memotivasi muridnya dengan sesuatu cara. Tidak lain tidak bukan adalah upah di sorga. Suatu hal yang hanya bisa ditawarkan oleh pemilik surga, bukan manusia biasa. Yesus tidak pernah mengiming-imingi pengikutnya dengan harta duniawi, tapi ia selalu berbicara tentang sorga, tentang kehidupan di alam baka yang tenang dan damai, dan Ia menyediakan tempat untuk mereka. Kebaikan tidak bisa di dorong dari luar tapi harus dari dalam. Iblis memiliki kuasa untuk mengintimidasi, membuat takjub, untuk memaksa kepatuhan, dan menghancurkan. Namun Allah mampu membuat iman tumbuh dengan bebas bukan percaya karena mukjizat. Allah menyentuh dari dalam, Iblis dari luar. Yesus dengan jelas memberikan pilihan, ikut dia, menderita akan dia, dan bahagia di sorga, atau sebaliknya, dan berakhir dengan kertak gigi. Dan inilah kuncinya, orang yang memilih pilihan pertama akan memperjuangkannya karena mereka bersaing dengan orang yang memilih pilihan kedua, serta sebaliknya dan karena itu iman tumbuh. Yesus tidak mengiming2ngi Petrus dkk(yang memilih pilihan pertama) akan hal duniawi, tapi mengiming2ngi akan penderitaan, karena Yesus tahu, orang yang memilih pilihan kedua saat itu yang mendominasi total. Bagaimana mungkin Petrus akan bahagia, jelas2 ia membawa kepercayaan baru yang menentang kepercayaan yang lama. Yesus menawarkan realita yang sesungguhnya, dan anehnya Petrus percaya. Yesus mengerti itu, karena itu ia harus lebih dulu menderita, sehingga pengikutnya melakukannya, karena pemimpinnya melakukannya. Dan cara Petrus, Paulus, dll dalam mengajarkan injil adalah kuncinya. Mereka bukan hanya memberitahukan apa yang diajarkan Yesus tapi melakukannya seumur hidupnya. Memang apa yang diajarkan Yesus, sehingga Kristen bisa mendominasi sekarang? Apa yang dipakai muridnya untuk mengabarkan Injil?
Memang banyak, mulai dari kemampuan Roh Kudus, dll. Tapi yang paling menonjol adalah “mukjizat teraniaya”. Yesus selalu mengajarkan memberikan pipi kananmu ketika pipi kirimu ditampar, mengasihi orang yang menganiaya kamu, dan berbahagialah karena teraniaya.
Inilah yang dipakai Petrus, Paulus, dll. Dengan menyerahkan dirinya sebagai sasaran, itu membuat para penindas takut, dan berpikir, wow, apa yang membuat orang ini mau mengorbankan nyawanya? Petrus dll mampu menebus kebebalan moral para penindas (yang saat itu kekaisaran romawi), dan menusuk hati mereka bukan secara fisik, mereka membuat para penindas malu dan memanggil rasa hormat dalam dirinya, dan akhirnya kekaisaran Romawi luluh lantak dengan “mukjizat teraniaya” dan menjadikan Kristen sebagai agama wajib.
Inilah cara Martin Luther King Jr. membebaskan bangsa Negro di Amerika. Ia berkata” untuk menjadi orang Kristen harus memikul salibnya, sampai meninggalkan bekas, dan membawa ke jalan yang lebih indah, yang hanya didapat melalui penderitaan. Ketika orang lain menyerukan pembalasan, ia menyerukan kasih. Itu terbukti pada puncaknya, ketika kerusuhan di Alabama, saat polisi menghabisi dengan liar para demonstran kulit hitam yang tidak bersenjata dan tidak melawan, dan itulah yang menyebabkan publik Amerika, yang ngeri melihat ketidak-adilan yang begitu kejam, akhirnya setuju untuk mengeluarkan undang-undang hak asasi. Dengan teraniaya, itu memanggil sifat alamiah manusia, sesuatu yang mengurangi kebencian, dan menimbulkan kehormatan bahkan kasih.
Itu yang membuat perang vietnam terselesaikan, ketika publik Amerika melihat kekejaman para Tentaranya, akhirnya mereka berdemo untuk menghentikan perang itu. Ketika para teraniaya berhasil membangunkan rasa malu para penindas. Inilah yang berkembang sampai sekarang, ketika salah satu ormas keagamaan di negara kita menindas kelompok agama lain, itu bukan menumpas kelompok agama itu, tapi malah membangkitkan ratusan, ribuan, malah jutaan pendukung. Inilah sesungguhnya “mukjizat teraniaya”.
Lebih dari 2 milyar orang dibaptis dalam nama bapa, putra dan roh kudus. Ketika pengajaran Kristus dipakai dalam pemerintahan, yaitu Demokrasi, yang berakar pada pengajaran Kristus, bahkan dipakai di Indonesia yang notabenenya negara muslim terbesar di dunia. Ketika orang Kristen tak teraniaya(walaupun masih ada) karena kita sudah puas teraniaya, sama seperti Yesus yang puas teraniaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar